Sabtu, 03 Oktober 2009

Senin, 15 Juni 2009

Internazionale milano football club

Berkah sebuah pembangkangan

Tahukah anda, inter milan tak akan terdengar namanya jika sejumlah orang tak melakukan pembangkangan? Ironis memang. Suatu bentuk pembangkangan malah menelorkan sebuah klub yang kelak diperhitungkan namanya di belantika sepak bola Italia dan Eropa.

Asal mulanya pun tak terbayang. Sejarah inter milan terkait erat dengan Milan Cricket & Football Club yang didirikan pada 16 desember 1899 oleh tiga orang Inggris-Herbert Kilpin, Allison, dan Davies. Tiga serangkai ini kemudian disebut-sebut juga dibantu oleh tiga rekannya yang lain Alfred Edward, Barnett, dan Nathan.

Para pendiri dan anggota Milan Cricket & Football Club awalnya mungkin tak pernah menyangka jika klub olah raga itu bakal pecah. Gara-garanya pun sepele. Sebagian anggota dipimpin oleh Giovanni Paramithiothi, memprotes kebijakan klub dalam pembatasan anggota. Sekadar info, saat itu milan tak mengizinkan pemain asing memperkuat timnya. Hanya menerima pemain Italia dan Inggris. Lainnya tidak.

Mereka yang tak setuju lantas minggat. Dan, sepakat mendirikan klub tandingan. Pada senin, 9 Maret 1908 bertempat di restoran Dell’Orologio, berdirilah INTERNAZIONALE MILANO FOOTBALL CLUB yang kelak bernama INTER MILAN.

Meski cara yang digunakan adalah pembangkangan pada awalnya, di kemudian hari ada satu hal yang patut di acungi jempol dari internazionale milano football club, itu terlihat pada tujuannya. Mereka sengaja memberi nama klub sempalan milan ini dengan internazionale. artinya sudah jelas, untuk umum. Secara luas, terbuka untuk siapa saja. Tanpa membedakan dari bangsa mana dan suku apa. Sifatnya global. Intinya, klub ini sejak awal berdiri telah berani mengesampingkan perbedaan rasial.

Begitu internazionale mendeklarasikan sifatnya yang terbuka untuk umum, sejumlah pemain asing mulai berdatangan. Kebanyakan mereka berasal dari Swiss. Sampai-sampai kapten pertama klub ini pun orang swiss tulen, Ernst Marktl.

Untuk membedakan identitas diri secara jelas dari saudara tuanya, milan mereka buru-buru menugaskan George Muggiani desainer lokal untuk merancang kostum. Sesuai kesepakatan Muggiani lantas memakai warna dasar emas di padukan garis hitam biru secara vertikal.

Soal kostum beres,beralih ke organisasi sebagai penghormatan atas ide “gilanya” untuk membentuk klub pelarian, Giovanni Paramithiothi kemudian diangkat menjadi presiden klub. Dia orang pertama di posisi itu.

Berkat jasa pemain asingnya, internazionale tak harus menunggu lama mendapatkan gelar pertamanya. Pada musim 1908-10 mereka memperoleh trofi pertama. Pelatih yang berperan besar memadukan kolaborasi Italia-Swiss saat itu adalah Virgilio Fossati I.

Berganti nama

Maju pesat,sayangnya anjlok juga pesat. Internazionale setelah itu menurun prestasinya. Hingga akhirnya trofi kedua diraihnya jauh pada musim 1919-20. Saat itu internazionale dibawah presiden Giorgio Hulss dan allenatore Nino Resegotti.yang jadi kapten Virgilio Fossati II(bukan Fossati I) .

Cerita selanjutnya berkaitan dengan catatan sejarah besar yang dibincangkan di Eropa dan belahan dunia lain. Di zaman fasis, Italia terkenal dengan kediktatoran Benito Mussolini. Dia bercita-cita menjadikan Italia negara super power. Imbasnya terjadi pada kebijakannya di negeri spaghetti. Semua hal diaturnya agar sesuai dengan paham yang mau dia bangun. Itulah kenapa, musim 1928-29, internazionale “dipaksa” melebur dengan klub lokal Unione Sportive Milanese. Bergantilah nama klub ini menjadi ambrosiana.

Kala itu internazionale dianggap musollini tak sesuai dengan fahamnya. Maklum, klub ini banyak diperkuat pemain asing. Padahal, sebagai negara penganut faham fasis, Italia lebih mengunggulkan bangsanya sendiri. Atau dengan kata lain, anti asing.

Meski harus berganti nama, inter tetap maju.mereka masih mampu berbicara.Tiga gelar berhasil diraih saat bernama ambrosiana-inter.bahkan, saat meraih scudetto ketiganya dimusim 1929-30, mereka dilatih allenatore asing, Arpad Veisz.cukup unik kan?

Dalam proses merebut gelar,kontribusi pemuda bernama Giuseppe Meazza sangat besar. Kesuksesan klub ini di era 1930-an tak bisa dilepaskan dari pemain yang kelak akan menjadi legenda sepanjang masa bagi inter dan Italia.

Usai perang dunia II, persisnya pada 1946, ambrosiana-inter kembali ke fitrahnya.mereka kembali ke nama pertamanya, internazionale. Orang yang punya peran besar dalam hal ini adalah Carlo Masseroni, presiden klub sejak tahun 1942.

Kostum putih denga tanda silang merah di dada di pakai pada era fasis, juga ditanggalkan. Kemudian inter memakai kostum yang sama seperti pada awal berdirinya. Selama 12 tahun Masseroni menjadi “nahkoda kapal” internazionale, dua scudetti berhasil digenggam. Hebatnya, itu dilakukan dua musim berturut-turut, 1952-53 dan 1953-54. Pelatihnya Alfredo Foni.

La grande Inter

Saat kapal induk internazionale dipegang oleh Angelo Moratti, dimulailah era keemasan yang sampai hari ini masih sering dibincangkan tifosi. Selama Angelo berkuasa, total tujuh gelar diraih inter. Benar-benar hebat karena tak hanya gelar lokal yang diraih. Gelar Eropa pun digondol.

Piala Champions musim 1963-64 dan 1964-65 serta piala Intercontinental 1964 dan 1965, merupakan bukti betapa inter saat itu begitu perkasa. Keperkasaan mereka semakin menjadi-jadi pada musim 1964-65. Mereka meraih tiga gelar sekaligus: scudetto, piala champions, dan piala Interkontinental.

Di era tersebut inter benar-benar ditakuti. Dengan formasi 4-2-4 inter hebat dalam pertahanan dan penyerangan. Bahkan,inter sempat dikenal dengan sebutan the winning team. Tim ini terdiri dari: Sarti(kiper), Burgnich, Fachetti, Bedin, Guarneri(bek), Picchi, Jair(gelandang), Mazzola, Milani, Suarez, Corso(striker).

Tak hanya Angelo semata sosok yang membuat inter mencapai keemasannya. Sosok lain yang tak boleh dilupakan adalah Helenio Herrera. Bahkan tak berlebihan jika disebut bahwa dialah sutradara yang sesungguhnya.

Allenatore asal Argentina ini mulai mengarsiteki inter pada musim 1960-61. Di tangan dingin Herrera, inter memperagakan sistem pertahanan gerendel atau yang lebih dikenal dengan istilah “Catenaccio”. Dialah pelatih yang mempopulerkan taktik dam strategi model begitu. Kelak,gaya bertahan ala catenaccio menjadi iri khas klub-klub dan timnas Italia.

Sebuah klub kadang tak lepas dari masa suram. Demikian juga inter, klub yang pernah berjaya di era 1960-an ini lantas merasakan kesuraman. Inter paceklik akan gelar selama empat musim(1966-1970). Tak satu pun gelar juara menghampiri mereka.

Untung saja, masa suram di inter tak berlangsung lama. Presiden baru, Ivanoe Fraizzoli berhasil membawa inter mengulangi masa kejayaannya. Ditandai dengan kemunculan striker kurus, Alessandro Altobelli, inter mulai merasakan kembali berbagai gelar juara.

Sukses inter di masa ini tak terlepas dari dua pelatih yaitu Gianni Invernizzi dan Eugenio Barsellini. Merekalah yang menyulap inter kembali menjadi klub yang ditakuti. Invernizzi yang menangani inter selama dua musim(1970-1972) berhasil menghasilkan satu scudetto pada musim 1970-71. Sementara Barsellini lebih hebat lagi. Raihan dua scudetti plus dua piala Italia merupakan kado manisnya selama lima musim bekerja untuk inter.

Bisa dikatakan, di erakepelatihan Giovanni Trapatoni, inter memasuki akhir masa kejayaannya di seri-A. Pelatih top yang dikontrak dari Juventus ini berhasil membawa inter merengkuh scudetto ke-13 kalinya pada musim 1988-89. Mr. Trap sendiri mulai menangani inter sejak musim 1986-87.

Inter benar-benar digdaya saat dipegang Mr. Trap. Duet Jerman yaitu Andreas Brehme dan Lothar Matthaeus merupakan pemain penting di balik kesuksesan inter. Di samping, tentu saja pelatihnya sendiri. Kebintangan mereka saat itu juga disokong oleh bintang-bintang lokal macam Walter Zenga, Giuseppe Bergomi, atau Riccardo Ferri.

Setelah Ernesto Pellegrini lengser dari kursi presiden, Massimo Moratti tampil pada 1995. Dia ingin mengulang sukses ayahnya yaitu Angelo Moratti. Tapi tampaknya gagal total.

diambil dari majalah soccer